Hari ini entah mengapa dimulai dengan kabut yang diiringi udara dingin yang membuatku semakin malas memulai aktifitas. Dengan harapan bisa mengusir malasku, aku menyalakan radiao dan memilih stasiun favoritku yang selalu memutar lagu-lagu Indonesia. Entah mengapa pada waktu yang sama setiap tahunnya selalu dimulai dengan cuaca yang tidak bersahabat seakan tahu isi hatiku yang teraduk-aduk setiap mengingat tanggal ini 8 tahun yang lalu. Permulaan kisah pilu yang entah mengapa aku tak pernah lupa. Kisah yang dimulai di awal-awal masa kuliahku di sebuah universitas negeri di Jakarta.
Ketika itu, dihari yang terik, engkau menyatakan cintamu. Keraguan sempat menyeruak dihatiku karena perbedaan jurang yang begitu dalam diantara kita, dimana untuk menyebranginya butuh pengorbanan yang teramat besar, yaitu perbedaan keyakinan. Engkau pun tahu itu dan memintaku mengenyampingkan itu semua, “karena kita hendak belajar mencintai dan melakukan banyak hal indah bersama”. Kau berusaha meyakinkan hatiku yang bimbang. Aku pun sebenarnya telah merasa teduh didekatmu, merasa nyaman, dan tidak pernah takut dihakimi penampilanya seperti lelaki lain. Kau begitu istimewa dan membuatku berandai kau meyakini tuhan yang sama denganku. Seakan terpesona oleh kata-kata indahmu aku kemudian mengiyakan ungkapan cintamu dan berusaha menipu hati kecilku.
Hari-hari ku semakin indah dengan kau yang selalu membuatku terbang ke awan dengan kata-kata cintamu. Kau menemaniku ke perpustakaan kampus, menungguiku praktikum di Lab hingga malam dan mengantarkanku ke mushola kampus didekat jurusan ku jika tiba waktu shalat. Engkau sungguh toleran. Bahkan kau rela kelaparan tiap hari hanya untuk menghormati puasaku di bulan ramadhan. Dengan jenaka kau mengatakan bahwa sesekali cacing-cacing diperutmu perlu diet agar mereka lebih sehat sehingga bisa terus mengurangi lemak yang masuk ke tubuhmu. Semua ini membuatku lupa bahwa kita tidak seharusnya menjalin hubungan ini.
Diulang tahun pertama hubungan kita kau mengajakku makan malam romantis di sebuah restoran didaerah BSD. Tempatnya yang diatas bukit dengan siraman lilin ditengah temaramnya suasana restoran membuat aura romantis segera menyeruak. Kau memilih tempat tepat mengarah ke pemandangan dibawah bukit. Ditempat ini kau menghadiahkanku MP3 player dengan berisi satu lagu yang merupakan lagu favorit kita yaitu lagu kahitna berjudul engga ngerti.
Aku tahu sebenarnya teman-temanku, terutama yang sejurusan denganku, menyayangkan hubungan kita tapi mereka tidak berani mengatakannya terus terang disamping aku memang selalu berusaha menghindar. Sebagai gantinya mereka semakin agresif mengajakku ikut berbagai pengajian baik di mushola jurusan maupun mesjid kampus. Sesekali aku mengikuti ajakan mereka dan kau begitu antusias mengantar dan menungguiku mengikuti kajian tersebut.
Di awal tahun ketiga hubungan kami terjadilah sebuah peristiwa yang mengubah segalanya. Ketika itu aku bertemu Mba Dian yang dengan apiknya menerangkan mengenai hubungan antar lawan jenis dan konsekuensinya. Aku seakan tertohok oleh kajiannya. Setelah kajian selesai mba Dian mengajakku untuk ikut kajian rutin muslimah dengan kelompok yang lebih kecil lagi dan tanpa sadar aku menganggukkan kepala tanda setuju. Minggu depannya dan minggu-minggu selanjutnya aku rutin mengikuti kajian mba Dian dan tanpa sadar perasaan untuk berjilbab semakin menguat. Ketika aku menyampaikan keinginan berjilbab kau dengan tanggap langsung mengajakku ke boutiqe muslimah dan membelikanku 2 potong baju muslimah dan jilbab pasangannya. Aku terpana melihat sikapmu sekaligus tersayat menyadari tidak semakin dekatnya perbedaan kita. Sambil menggemgam kantong pembungkus baju muslimah tanpa sadar aku meteskan air mata dan kau melihatnya. Disebuah tempat yang sepi kau menepikan mobilmu dan mengajakku keluar mobil. Tanpa kata-kata kau memandangku tajam sambil tersenyum yang entah apa artinya. Aku hanya tertunduk dengan air mata yang jatuh satu-satu. Dengan lembut kau menarikku kedalam pelukanmu dan berkata lirih, “Aku mencintaimu apa adanya dan tak pernah berharap kau berubah demi aku”. Sambil mengusap air mataku dengan tanganmu serta tersenyum kau berkata lagi, “Kau akan semakin cantik dengan jilbabmu dan aku tetap ingin dirimu”. Kata-katamu membuatku semakin terisak dan sesak. Kau membiarkanku menyelesaikan tangisku dipelukmu sambil mengusap lembut punggungku. Setelah agak tenang, kau mengantarku pulang. Sejak saat itu setiap bertemu denganmu selalu timbul dua rasa berbeda bagai dua sisi koin, bahagia dan galau. Perasaan itu sangat menyiksaku dan membuatku ingin berbagi. Aku memutuskan untuk curhat masalah ini dengan mba Dian selepas kajian rutinku.
Kajian kali ini terasa sangat lambat dan merupakan kajian terhambar yang pernah kuikuti karena bercampur aduknya perasaanku. Akhirnya selesai juga kajian kali ini dan aku segera beringsut mendekati mba Dian dan meminta waktunya agar aku bisa curhat. Mba Dian dengan antusias mendengarkan cerita ku dari A sampai Z hubungan kita. Sebelum menjawab mba Dian terlebih dahulu menghembuskan nafas seakan sedang terhimpit beban berat. Mba Dian memulai dengan pertanyaan retoris apa sebenarnya tujuan sebuah hubungan percintaan. Beliau dengan cepat melanjutkan bahwa tujuan hubungan percintaan adalah bahagia dan tumbuh menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Dulu aku menganggap aku bahagia denganmu tapi mengapa akhir-akhir ini kebahagian itu terasa menguap dengan cepat. Mba Dian menjelaskan bahwa hubungan yang sehat haruslah dilandasi hal-hal yang asasi bukan hanya sekedar lipstik kata-kata indah dan rayuan cinta. Hubungan itu haruslah abadi hingga akhir nanti karena dipertemukan di surgaNya dan hubungan kita tidak akan bisa seperti itu kecuali engkau menrubah keyakinanmu. Mba Dian menyarankan untuk mempertanyakan kembali komitmen cintamu dengan merubah apa yang kau yakini hampir seumur hidupmu. Mba Dian juga menasehatiku untuk menyegerakan menikah daripada berlama-lama menjalin hubungan yang belum tentu jelas akhirnya. Sebenarnya hati kecilku setuju dengan semua ucapan mba Dian tapi entah mengapa aku masih ragu. Dirimu begitu indah dan hari-hariku terasa berbeda denganmu. Kau membuat terik mentari menjadi teduh dengan senyummu. Kau membuat hujan terasa hangat dengan gelora cintamu. Disatu sisi aku masih ingin bersamamu tapi disisi lain aku ingin lepas dari semua perasaan bersalah ini.
Engkau seolah menyadari perbedaan sikapku walau aku tak pernah menyatakannya. Pertemuan kita tidak seindah dulu. Semakin lama pertemuan kita semakin singkat hingga suatu hari kau mengajakku membicarakan hubungan kita. Kau mengatakan bahwa hubungan kita tidak akan bertahan tanpa aku melepaskan diri dari keinginan merubah keyakinannmu. Sambil menahan rasa yang sulit kulukiskan aku memberanikan diri untuk memintamu memilih antara aku atau keyakinanmu dan kau memilih keyakinannmu. Aku sendiri sebenarnya mengerti keadaanmu. Engkau anak lelaki satu-satunya dan anak tertua dikeluargamu. Engkau lah harapan kedua orangtua mu dan tidak mungkin mengecewakn keduanya. Hari itu, bertepatan dengan 4 tahun kebersamaan kita kau memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Sambil meneteskan air mata aku menyetujui nya dan secara resmi berakhirlah hubungan kita. Beberapa bulan kemudian kita diwisuda bersama.
Disaat yang lain bergembira aku tetap merasa pilu dan hanya sesekali memaksakan diri tersenyum didepan teman-temanku demi menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya.
Kini 4 tahun kemudian ketika aku perlahan bisa melupakanmu datanglah lagu itu. Lagu favorit kita. Liriknya seakan berdentum dihatiku. Lirik ini seakan mewakili ucapanmu.
Mengapa harus
keyakinan memisah cinta kita
Meski cintamu aku
Sesungguhnya
Aku kangen kamu
Dimana dirimu
Aku gak ngerti
Dengarkanlah
Kau tetap terindah
Meski tak mungkin bersatu
Kau selau ada dilangkahku...
Seakan mengimbangi, hati kecilku membalasnya dengan FirmanMu yang selalu kulantunkan setiap kali mengingatmu,
dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedangAllah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.
Ampuni hambaMu yang lemah ini ya Allah...
Berlin, suatu malam dimusim gugur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar