Dear Istriku, sang pacar idaman...
7 tahun lalu...Rasa hati bagai dibawa berlari ketika tiba waktunya membedah calon pujaan hati. Jantung ini berdegup kencang ketika perlahan membukanya. Sekilas wajah manis menyeruak dari balik kertas putih beserta pernik detail lainnya. Seakan dipupuri aroma pemikat, aku seketika jatuh hati dan kemudian terjerat. Senyummu disana seakan membius, membawaku ke awan seakan membawa mimpi tanpa ingin pupus.
It was too good to be true. Seorang calon dokter solehah, tanpa pulasan di wajah, kini duduk dihadapanku beradu tanya, tentu tidak berdua. Berusaha saling mengenal, meraba hati, sambil menerka warna hati dibalik wajahmu yang kian menunduk jengah.
Dear Istriku, sang pengantin hati...
Pagi itu, tuntas sudah jeratan itu, berubah menjadi ikatan yang membahagiakan beserta tanggung jawab. Bebas saling memandang, saling menggoda, dan bermesra. Seakan hilang kekakuan dan gugup. Hari bersejarah itu sungguh tak terlupakan Hari saat kau dan aku saling (mulai) mencinta atas nama-Nya. Apapun yang kita lakukan bak warna cerah yang mengguyur dunia hingga mendung tak lagi tampak. Aku mencintaimu karena Allah...
Dear istriku, sang pendidik...
Satu persatu buah hati kita hadir, menguji dan meminta. Menguji sabar, menguji ikhlas, sambil menguji komitmen. Tanpa sadar mereka juga meminta perhatianmu, meminta belaianmu, hingga meminta tidurmu. Semua tuntas kau jalani bahkan sambil tetap menjadi istri.
Dear istriku, Kekasihku
Mari kita berdoa semoga Allah menakdirkan kita berjodoh selamanya.
Happy 7th wedding Anniversary!!!!!
Entri Populer
-
Kali ini saya ingin bikin tulisan yang agak serius. Jadi istirahatkan rahang anda dan fokuskan mata anda karena ini bukan cerita komedi. Jug...
-
Teh Rini VS Cut Tari? Maksud lo? Pasti pada bingung dengan judul diatas. Judul diatas bukan dibuat untuk meniru judul film Jason VS Fredy at...
-
PROPOSAL NIKAH Latar Belakang Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah...
-
Kata-kata kemerdekaan dan kebebasan akhir-akhir ini menjadi kata yang populer (kembali) seiring dengan datangnya hari kemerdekaan Indonesi...
-
Dia dijuluki oleh sejarah sebagai sang penakluk bukan saja karena dia mampu menaklukkan konstantinopel tapi juga karena dia menaklukkannya d...
-
Dulu waktu dikampus ini pertanyaan paling tabu sejagat. Saking tabunya sampe-sampe kita menganggapnya setara dengan isu SARA (suku, ras, aga...
-
This word that makes guys becoming jerk dan kalimat ini dipercaya oleh banyak ABG labil sampai saat ini untuk menarik wanita jatuh ke peluka...
-
Ternyata pisah sama keluarga gak enak pisan euy. Tiap hari gak pernah lupa liat tanggalan. Untung aja itu tanggalan gak ada gambar fotomodel...
-
Setelah menjalani 1 bulan penuh tanpa produktivitas yang berarti aku seakan tersentak untuk kembali pada performa semula ketika orang-orang ...
-
Hi semua, ketemu lagi deh kita. Udeh lama nih blog kaga diisi. Maklum, sibuk kerja di Lab. Oh ya, bagi yang baru berkunjung saya ingatkan ke...
Jumat, 03 Mei 2013
Don’t Be Your Self...
“Be Your Self.”
Entah sudah berapa kali kita mendengar ungkapan tersebut.
Seakan-akan itulah resep manjur dalam mempersonifikasikan diri kita dihadapan
orang lain secara jujur.
“Peduli amat pandangan orang lain, yang penting gue udah
tampil apa adanya.”
Maka kemudian timbullah manusia-manusia berkostum
atau berdandan aneh tapi pada waktu dan tempat yang tidak tepat. Katanya sih ingin
menampilkan dirinya apa adanya tapi nyatanya hanya menambah lapisan topeng pada
wajahnya. Ya benar, tampilan yang tidak sesuai dengan keumuman masyarakat
sekitar anda dan tidak sesuai dengan keyakinan anda sebenarnya hanyalah topeng.
Anda hanya ingin dikenal sebagai bagian dari komunitas anda bukan ingin dikenal
sebagai personal yang unik dan itu bukan be yourself, setidaknya itu menurut
saya.
Kasihanilah mereka yang menggemakan kata-kata be yourself
tapi tidak benar-benar jujur tentang dirinya. Bahkan ironisnya ia tidak tahu
siapa dirinya, tidak juga mengetahui kelemahannya. Tidak hanya menolak komentar
orang tentang dirinya, bahkan mencaci maki komentator tersebut. Pokoknya Ia
hanya mau exist. Titik. (Pura-pura) Tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Sebegitu dahsyatkah sebuah existensi? Mengapa existensi menjadi begitu penting?
Existensi penting karena dua alasan: Karena kita
adalah mahluk sosial dan secara fitrah berbeda satu sama lainnya. Nah lho, jadi
bingung deh. Mari kita bedah pernyataan di kalimat sebelumnya.
Kita adalah mahluk sosial. Apa buktinya? Mari kita
lihat diktator. Seorang pemimpin rejim yang paling kejam sekalipun adalah mahluk
sosial. Andaikan tentara yang mendukungnya tiba-tiba menolak segala perintahnya
maka mendadak kekuasaan sang diktator pun lumpuh. Kita akan selalu berinteraksi
dan membutuhkan bantuan orang lain selama hidup kita, kecuali kita mengasingkan
diri ke kutub utara ( etapi di Kutub Utara juga masih ada orang deng). Inilah
yang menjadi dasar mengapa kita disebut mahluk sosial. Jadi tanpa orang lain
kita tidak akan exist. Begitu juga sebaliknya, manakala kita sudah merasa bukan
mahluk sosial (baca: tidak mau bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya)
maka saat itu pula existensi kita terancam. Siapa lagi yang akan menopang kita
jika bukan lingkungan terdekat kita? Emangnya anda bisa ke rumah sakit sendiri ketika
terkena serangan jantung?
Walaupun kita ditakdirkan untuk hidup bersama-sama
dengan orang lain, tapi secara fitrah, tidak ada satu orang pun yang punya
paduan karakter dan sifat yang sama. Inilah faktor penting yang membuat kita
dikenali, bahkan sebelum fisik kita tampak. Seringkali dari irama langkah
seseorang kita sudah bisa menduga siapakah yang akan muncul dari balik pintu.
Paduan sifat inilah yang membuat sesorang berbeda dengan lainnya. Ini pula yang
kemudian membuat kita exist. Perbedaan yang dipunyai oleh masing-masing
individu membuat individu tersebut mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan
individu lainnya. Bisa dibayangkan jika semua orang punya sifat yang sama atau
punya bakat yang sama, misalkan memasak, maka tidak akan kita jumpai smartphone
canggih atau instrumen teknologi lainnya saat ini. Juga tidak akan kita jumpai
gedung-gedung bertingkat yang menjadi ikon kota-kota utama dunia. Jadi keunikan
kita bisa menjadi syarat existensi kita asalkan keunikan tersebut memberi
manfaat bagi manusia lainnya.
Jadi jelas ya, konsep be yourself dan existensi
tidak kompatibel. Be yourself mengisyaratkan makna statik, seakan-akan kita tidak
akan berubah. Keenganan untuk berubah menjadi lebih baik selalu disamarkan
dalam bentuk kalimat be yourself tersebut. Maka mulai sekarang, mari kita
tinggalkan konsep be yourself yang sudah usang tersebut. Mari kita menjadi be
the best version of yourself
Langganan:
Postingan (Atom)