Entri Populer

Jumat, 03 Mei 2013

Mencintaimu itu...

Dear Istriku, sang pacar idaman...

7 tahun lalu...Rasa hati bagai dibawa berlari ketika tiba waktunya membedah calon pujaan hati. Jantung ini berdegup kencang ketika perlahan membukanya. Sekilas wajah manis menyeruak dari balik kertas putih beserta pernik detail lainnya. Seakan dipupuri aroma pemikat, aku seketika jatuh hati dan kemudian terjerat. Senyummu disana seakan membius, membawaku ke awan seakan membawa mimpi tanpa ingin pupus.

It was too good to be true. Seorang calon dokter solehah, tanpa pulasan di wajah, kini duduk dihadapanku beradu tanya, tentu tidak berdua. Berusaha saling mengenal, meraba hati, sambil menerka warna hati dibalik wajahmu yang kian menunduk jengah.


Dear Istriku, sang pengantin hati...

Pagi itu, tuntas sudah jeratan itu, berubah menjadi ikatan yang membahagiakan beserta tanggung jawab. Bebas saling memandang, saling menggoda, dan bermesra. Seakan hilang kekakuan dan gugup. Hari bersejarah itu sungguh tak terlupakan Hari saat kau dan aku saling (mulai) mencinta atas nama-Nya. Apapun yang kita lakukan bak warna cerah yang mengguyur dunia hingga mendung tak lagi tampak. Aku mencintaimu karena Allah...


Dear istriku, sang pendidik...

Satu persatu buah hati kita hadir, menguji dan meminta. Menguji sabar, menguji ikhlas, sambil menguji komitmen. Tanpa sadar mereka juga meminta perhatianmu, meminta belaianmu, hingga meminta tidurmu. Semua tuntas kau jalani bahkan sambil tetap menjadi istri.


Dear istriku, Kekasihku

Mari kita berdoa semoga Allah menakdirkan kita berjodoh selamanya.

Happy 7th wedding Anniversary!!!!!

Don’t Be Your Self...



“Be Your Self.”

Entah sudah berapa kali kita mendengar ungkapan tersebut. Seakan-akan itulah resep manjur dalam mempersonifikasikan diri kita dihadapan orang lain secara jujur.

“Peduli amat pandangan orang lain, yang penting gue udah tampil apa adanya.”

Maka kemudian timbullah manusia-manusia berkostum atau berdandan aneh tapi pada waktu dan tempat yang tidak tepat. Katanya sih ingin menampilkan dirinya apa adanya tapi nyatanya hanya menambah lapisan topeng pada wajahnya. Ya benar, tampilan yang tidak sesuai dengan keumuman masyarakat sekitar anda dan tidak sesuai dengan keyakinan anda sebenarnya hanyalah topeng. Anda hanya ingin dikenal sebagai bagian dari komunitas anda bukan ingin dikenal sebagai personal yang unik dan itu bukan be yourself, setidaknya itu menurut saya.

Kasihanilah mereka yang menggemakan kata-kata be yourself tapi tidak benar-benar jujur tentang dirinya. Bahkan ironisnya ia tidak tahu siapa dirinya, tidak juga mengetahui kelemahannya. Tidak hanya menolak komentar orang tentang dirinya, bahkan mencaci maki komentator tersebut. Pokoknya Ia hanya mau exist. Titik. (Pura-pura) Tidak peduli dengan pendapat orang lain. Sebegitu dahsyatkah sebuah existensi? Mengapa existensi menjadi begitu penting?

Existensi penting karena dua alasan: Karena kita adalah mahluk sosial dan secara fitrah berbeda satu sama lainnya. Nah lho, jadi bingung deh. Mari kita bedah pernyataan di kalimat sebelumnya.

Kita adalah mahluk sosial. Apa buktinya? Mari kita lihat diktator. Seorang pemimpin rejim  yang paling kejam sekalipun adalah mahluk sosial. Andaikan tentara yang mendukungnya tiba-tiba menolak segala perintahnya maka mendadak kekuasaan sang diktator pun lumpuh. Kita akan selalu berinteraksi dan membutuhkan bantuan orang lain selama hidup kita, kecuali kita mengasingkan diri ke kutub utara ( etapi di Kutub Utara juga masih ada orang deng). Inilah yang menjadi dasar mengapa kita disebut mahluk sosial. Jadi tanpa orang lain kita tidak akan exist. Begitu juga sebaliknya, manakala kita sudah merasa bukan mahluk sosial (baca: tidak mau bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya) maka saat itu pula existensi kita terancam. Siapa lagi yang akan menopang kita jika bukan lingkungan terdekat kita? Emangnya anda bisa ke rumah sakit sendiri ketika terkena serangan jantung?

Walaupun kita ditakdirkan untuk hidup bersama-sama dengan orang lain, tapi secara fitrah, tidak ada satu orang pun yang punya paduan karakter dan sifat yang sama. Inilah faktor penting yang membuat kita dikenali, bahkan sebelum fisik kita tampak. Seringkali dari irama langkah seseorang kita sudah bisa menduga siapakah yang akan muncul dari balik pintu. Paduan sifat inilah yang membuat sesorang berbeda dengan lainnya. Ini pula yang kemudian membuat kita exist. Perbedaan yang dipunyai oleh masing-masing individu membuat individu tersebut mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan individu lainnya. Bisa dibayangkan jika semua orang punya sifat yang sama atau punya bakat yang sama, misalkan memasak, maka tidak akan kita jumpai smartphone canggih atau instrumen teknologi lainnya saat ini. Juga tidak akan kita jumpai gedung-gedung bertingkat yang menjadi ikon kota-kota utama dunia. Jadi keunikan kita bisa menjadi syarat existensi kita asalkan keunikan tersebut memberi manfaat bagi manusia lainnya.

Jadi jelas ya, konsep be yourself dan existensi tidak kompatibel. Be yourself mengisyaratkan makna statik, seakan-akan kita tidak akan berubah. Keenganan untuk berubah menjadi lebih baik selalu disamarkan dalam bentuk kalimat be yourself tersebut. Maka mulai sekarang, mari kita tinggalkan konsep be yourself yang sudah usang tersebut. Mari kita menjadi be the best version of yourself