“Be Your Self.”
Entah sudah berapa kali kita mendengar ungkapan tersebut.
Seakan-akan itulah resep manjur dalam mempersonifikasikan diri kita dihadapan
orang lain secara jujur.
“Peduli amat pandangan orang lain, yang penting gue udah
tampil apa adanya.”
Maka kemudian timbullah manusia-manusia berkostum
atau berdandan aneh tapi pada waktu dan tempat yang tidak tepat. Katanya sih ingin
menampilkan dirinya apa adanya tapi nyatanya hanya menambah lapisan topeng pada
wajahnya. Ya benar, tampilan yang tidak sesuai dengan keumuman masyarakat
sekitar anda dan tidak sesuai dengan keyakinan anda sebenarnya hanyalah topeng.
Anda hanya ingin dikenal sebagai bagian dari komunitas anda bukan ingin dikenal
sebagai personal yang unik dan itu bukan be yourself, setidaknya itu menurut
saya.
Kasihanilah mereka yang menggemakan kata-kata be yourself
tapi tidak benar-benar jujur tentang dirinya. Bahkan ironisnya ia tidak tahu
siapa dirinya, tidak juga mengetahui kelemahannya. Tidak hanya menolak komentar
orang tentang dirinya, bahkan mencaci maki komentator tersebut. Pokoknya Ia
hanya mau exist. Titik. (Pura-pura) Tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Sebegitu dahsyatkah sebuah existensi? Mengapa existensi menjadi begitu penting?
Existensi penting karena dua alasan: Karena kita
adalah mahluk sosial dan secara fitrah berbeda satu sama lainnya. Nah lho, jadi
bingung deh. Mari kita bedah pernyataan di kalimat sebelumnya.
Kita adalah mahluk sosial. Apa buktinya? Mari kita
lihat diktator. Seorang pemimpin rejim yang paling kejam sekalipun adalah mahluk
sosial. Andaikan tentara yang mendukungnya tiba-tiba menolak segala perintahnya
maka mendadak kekuasaan sang diktator pun lumpuh. Kita akan selalu berinteraksi
dan membutuhkan bantuan orang lain selama hidup kita, kecuali kita mengasingkan
diri ke kutub utara ( etapi di Kutub Utara juga masih ada orang deng). Inilah
yang menjadi dasar mengapa kita disebut mahluk sosial. Jadi tanpa orang lain
kita tidak akan exist. Begitu juga sebaliknya, manakala kita sudah merasa bukan
mahluk sosial (baca: tidak mau bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya)
maka saat itu pula existensi kita terancam. Siapa lagi yang akan menopang kita
jika bukan lingkungan terdekat kita? Emangnya anda bisa ke rumah sakit sendiri ketika
terkena serangan jantung?
Walaupun kita ditakdirkan untuk hidup bersama-sama
dengan orang lain, tapi secara fitrah, tidak ada satu orang pun yang punya
paduan karakter dan sifat yang sama. Inilah faktor penting yang membuat kita
dikenali, bahkan sebelum fisik kita tampak. Seringkali dari irama langkah
seseorang kita sudah bisa menduga siapakah yang akan muncul dari balik pintu.
Paduan sifat inilah yang membuat sesorang berbeda dengan lainnya. Ini pula yang
kemudian membuat kita exist. Perbedaan yang dipunyai oleh masing-masing
individu membuat individu tersebut mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan
individu lainnya. Bisa dibayangkan jika semua orang punya sifat yang sama atau
punya bakat yang sama, misalkan memasak, maka tidak akan kita jumpai smartphone
canggih atau instrumen teknologi lainnya saat ini. Juga tidak akan kita jumpai
gedung-gedung bertingkat yang menjadi ikon kota-kota utama dunia. Jadi keunikan
kita bisa menjadi syarat existensi kita asalkan keunikan tersebut memberi
manfaat bagi manusia lainnya.
Jadi jelas ya, konsep be yourself dan existensi
tidak kompatibel. Be yourself mengisyaratkan makna statik, seakan-akan kita tidak
akan berubah. Keenganan untuk berubah menjadi lebih baik selalu disamarkan
dalam bentuk kalimat be yourself tersebut. Maka mulai sekarang, mari kita
tinggalkan konsep be yourself yang sudah usang tersebut. Mari kita menjadi be
the best version of yourself
Tidak ada komentar:
Posting Komentar