Dulu waktu saya mulai kuliah sekitar tahun 2000, Indonesia masih memasuki masa-masa transisi dari orde baru ke orde reformasi. Dimasa ini pula pertama kali ada pemilu yang demokratis sejak 32 tahun yang lalu. Selama 6 pemilu sebelumnya pemenang pemilu sudah diketahui sebelum pemilu tersebut dimulai. Tapi gak semua dimasa orde baru itu jelek. Contohnya, alih-alih harus menghapal 6 presiden kita cuma harus menghapal 2 presiden. Selain itu juga kita jadi lebih nasionalis karena dipaksa menghapal semua lagu perjuangan yang udah dikumpulin dalam 1 buku. Dulu waktu SD sering banget guru saya salah sangka dengan nama saya yang berakibat fatal. Saya selalu dikira mempunyai nama depan A padahal nama saya dimulai dengan huruf depan M (Muhamad Andhika). Jadi kalo ada hapalan lagu nasional atau pergantian kabinet nama saya salah satu yang dipanggil paling duluan. Kalo disuruh ngapalin nama menteri sih mending namanya pendek-pendek dan gak tiap tahun ganti, lah lagu perjuangan panjang-panjang. Pernah gurunya bilang "oke kita akan tes lagu perjuangan tapi tidak sesuai dengan absen. ya yang pertama kali nyanyi adalah andhika" halah sama aja itu mah. Tapi sisi positifnya saya jadi hapal banyak lagu perjuangan, gak kaya anak sekarang yang hapalnya lagu keong racun. Malah saking hapalnya anak kecil sama lagu ini, pas dia diajak tidur siang sama pembantu nya (yang baru direkrut oleh ibunya beberapa hari lalu dari daerah jawa) langsung nyanyi " dasar kau keong racun, baru kenal udah ngajak tidur".
Oke cukup mengingat masa kecil dan balik ke masa kuliah dulu. Saya melalui masa-masa ini dengan senang tidak terkecuali senang namanya paling diingat sama dosen bagian akademik. Saya sempat GR juga sih karena dosen ini ingat nama saya tapi ke -GR-an saya langsung lenyap seketika ketika teman saya bilang "jelas aja dia inget nama lo secara lo ambil daftar nilai sementara di dia selama 3 semester berturut-turut karena IPS (indeks prestasi sementara, inget lho MASIH SEMENTARA) lo dibawah 2". Entah kenapa rasanya sulit banget bagi saya dapet nilai A atau B padahal saya udah belajar keras, saking kerasnya sering ketiduran kalo ada belajar bareng pas masa ujian. Untuk menghibur diri dari bencana IPS satu koma saya mengikuti banyak kegiatan ekskul kampus. Cukup bingung juga karena saya ingin ikut kegiatan kampus yang ada unsur olahraganya, ada unsur jalan-jalannya, dan yang terakhir bisa masuk TV atau koran. Entah karena kecerdasan yang minim atau kesambet jin saya memilih ikut kegiatan demonstrasi. Saya liat semua tercakup disana. Ada unsur olahraga (harus siap lari biar gak ketangkep brimob), ada unsur jalan-jalannya (minimal jalan menyusuri jalan-jalan protokol), terus bisa masuk TV lagi (suka diwawancara kru TV kalo lagi aksi). Maka kemudian dimulailah petualangan saya sebagai seorang pendemo yang mana pengalaman ini gak cuma seru tapi juga lucu.
Demo pertama saya adalah ke gedung DPR/MPR untuk menuntut pembentukan pansus Bulog Gate yang melibatkan presiden Gus Dur. Ketika itu gedung DPR/MPR menjadi tempat favorit pendemo. Pernah suatu ketika kami berdemo disana dan ada komando untuk merubuhkan pintu DPR/MPR. Di lain pihak ternyata sepasukan polisi disuruh komandannya untuk mempertahankan supaya mahasiswa tidak masuk kedalam gedung. Saling dorong mendorong ditengah teriknya matahari membuat emosi tidak terkontrol dan akhirnya polisi mengalah untuk menjaga dibalik pintu gerbang. Melihat kejadian ini mahasiswa menjadi lebih semangat dan terus menggoyang pintu gerbang. Ditengah heroiknya menggoyang pintu gerbang yang tak kunjung rubuh ada yang berteriak untuk masuk ke dalam gedung dengan cara menaiki beramai-ramai. Wah psycho juga ni orang. Dia gak sadar apa itu pager tingginya 5 meter dan diatasnya ada kawat berduri. Belum lagi dibawah udah nungguin herder brimob yang entah udah berapa abad gak makan daging orang. Saya jadi inget kejadian di Film Lebak membara dimana ada adegan yang masih saya inget sampe sekarang. Seorang jagoan kampung memaksa masuk ke gedung belanda dengan menaiki pagar. Tentara Belanda kemudian menembakinya tapi gak mempan karena dia pake jimat. Begitu berhasil melewati pagar eh jimatnya ketinggalan di pagar ya udah pas ditembak lagi mati deh dia. Kembali ke adegan pagar tadi, berhubung tidak ada diantara kita yang memakai jimat dan herder gak punya pantangan jimat maka sepertinya memanjat pagar adalah tindakan yang tidak bijak. Setelah beberapa waktu menggoyang pagar maka runtuhlah pagar dan ketika pagar itu rubuh polisi kemudian menembakkan gas air mata yang rasanya pedih banget di mata. Wah waktu itu saya takut kalo mereka bakal nembak pake peluru beneran. Mana belum nikah lagi dan belum bikin surat wasiat. Setelah itu merubuhkan pagar gedung DPR/MPR menjadi tren demo mahasiswa hingga akhirnya kita berhasil menurunkan Gus Dur.
Bagi kami demo juga sarana untuk mengenakan jaket almamater yang lebih sering dipajang dirumah. Ada sekelumit rasa bangga mengenakan jaket ini yang merupakan ciri khas kampus kami. Di sela-sela demo kita malah berburu kancing karena biasanya di kancing jaket almamater tersebut ada lambang kampusnya. Jadilah jaket saya yang atas lambang UI, terus gambar gajah duduk, dan terakhir lambang IPB. Belum lagi kalo ada bagi-bagi konsumsi dan yang ngebaginya cewe-cewe cakep. Wah pada berebutan tuh. Saya yang waktu itu belum nikah (sekarang udah dan belum berani minta nambah) cuma ngeliatin aja sambil istirahat sebelum long march kembali.
Ya itulah sedikit kisah heroik saya yang mudah-mudahan dihitung amal sholeh di hari kiamat nanti karena sudah berpartisipasi memperbaiki negeri ini. Kangen nih masa-masa itu. Love all the good things and learn from the bad things.
Entri Populer
-
Kali ini saya ingin bikin tulisan yang agak serius. Jadi istirahatkan rahang anda dan fokuskan mata anda karena ini bukan cerita komedi. Jug...
-
Teh Rini VS Cut Tari? Maksud lo? Pasti pada bingung dengan judul diatas. Judul diatas bukan dibuat untuk meniru judul film Jason VS Fredy at...
-
PROPOSAL NIKAH Latar Belakang Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah...
-
Kata-kata kemerdekaan dan kebebasan akhir-akhir ini menjadi kata yang populer (kembali) seiring dengan datangnya hari kemerdekaan Indonesi...
-
Dia dijuluki oleh sejarah sebagai sang penakluk bukan saja karena dia mampu menaklukkan konstantinopel tapi juga karena dia menaklukkannya d...
-
Dulu waktu dikampus ini pertanyaan paling tabu sejagat. Saking tabunya sampe-sampe kita menganggapnya setara dengan isu SARA (suku, ras, aga...
-
This word that makes guys becoming jerk dan kalimat ini dipercaya oleh banyak ABG labil sampai saat ini untuk menarik wanita jatuh ke peluka...
-
Ternyata pisah sama keluarga gak enak pisan euy. Tiap hari gak pernah lupa liat tanggalan. Untung aja itu tanggalan gak ada gambar fotomodel...
-
Setelah menjalani 1 bulan penuh tanpa produktivitas yang berarti aku seakan tersentak untuk kembali pada performa semula ketika orang-orang ...
-
Hi semua, ketemu lagi deh kita. Udeh lama nih blog kaga diisi. Maklum, sibuk kerja di Lab. Oh ya, bagi yang baru berkunjung saya ingatkan ke...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar